Tata Hidup Trappist

Hidup para rahib Trappist adalah hidup yang dikuduskan bagi Allah dan diungkapkan dalam persatuan persaudaraan, dalam kesunyian dan diam diri, dalam doa dan kerja, dan juga dalam tertib hidup. Kesuburan kerasulan mereka yang tersembunyi turut serta dalam memperkaya Gereja sebagai tubuh mistik Kristus.

Dengan mengucapkan kaul kerahibannya, seorang rahib dikuduskan kepada Allah dan digabungkan dengan komunitas yang menerimanya. Dengan demikian pengudusan yang telah diterimanya pada waktu pembaptisan dan krisma diperbaharui dan dihidupkan kembali. Dengan berjanji setia dalam penggabungan tetap, seorang rahib mewajibkan dirinya untuk bertobat sungguh-sungguh dalam ketaatan sukarela hingga akhir hayatnya.

Rumus ketiga kaul yang diucapkan oleh seorang rahib Trappist seturut dengan tradisi Benediktin adalah:

  • Penggabungan tetap dalam komunitas (stabilitas),

  • Tata hidup kerahiban (conversatio morum), dan

  • Ketaatan (obedientia)

Oleh kaul penggabungan tetap dalam komunitasnya, seorang rahib sambil percaya kepada penyelenggaraan Allah yang memanggilnya datang ke biara dan ke dalam persekutuan para saudara, mewajibkan diri untuk menjalani hari-hari hidupnya sebagai rahib. Ia wajib dengan setia memanfaatkan setiap latihan rohani yang tersedia disitu sampai akhir.

Dengan mengucapkan kaul tata hidup kerahiban, seorang rahib mewajibkan diri untuk memenuhi tertib hidup Cisterciensis dalam mencari Allah dengan hati sederhana di bawah bimbingan Injil. Ia tidak menyisihkan sesuatu pun bagi diri sendiri dan tidak lagi berkuasa bahkan atas tubuhnya sendiri. Ia melepaskan bahkan kemampuan untuk memperoleh dan memiliki harta benda bagi dirinya sendiri. Ia juga menyatakan dirinya bertarak sempurna dalam selibat demi Kerajaan Surga.

Melalui kaul ketaatan, seorang rahib, yang menginginkan hidup di bawah suatu peraturan dan seorang abas, berjanji akan memenuhi segala hal yang diperintahkan kepadanya oleh para pemimpin yang sah. Dengan mengingkari kehendak sendiri seperti itu, ia mengikuti teladan Kristus yang taat sampai mati, dan menyerahkan diri kepada Sekolah Pengabdian Tuhan.

Para rahib yang menjalani hidup bersama dalam sebuah biara hendaknya mengindahkan hukum hidup bersama: kesatuan roh dalam kasih Allah, ikatan damai dalam kasih timbal balik terus-menerus antara semua saudara, dan berbagi dalam penggunaan harta benda duniawi. Mereka hendaknya bertekad untuk menanggung kelemahan sendiri dengan sangat sabar dan saling melayani dengan rendah hati.

Kesatuan para rahib dalam komunitas yang merupakan Tubuh Mistik Kristus itu dibentuk melalui persaudaraan yang dijiwai oleh kerelaan untuk saling membagikan anugerah rohani yang diterima menurut karunia Allah yang beranekaragam. Kesatuan dipelihara dengan membina usaha yang jujur dan timbal balik untuk saling berdamai. Oleh karena itu supaya duri sandungan dapat disingkirkan dari komunitas, para saudara hendaknya tidak menyimpan amarah, tetapi segera berdamai kembali dengan saudaranya bilamana terjadi perselisihan. Perayaan-perayaan liturgi Gereja memegang peran amat penting dalam kemajuan rohani hidup setiap rahib. Dalam perayaan liturgi, tujuan rohani komunitas tampak secara khusus, dan kesadaran batin akan panggilan monastik dan persatuan para saudara dikokohkan dan berkembang. Dalam liturgi, teristimewa dalam Ibadat Harian dan Perayaan Ekaristi, setiap Sabda Allah didengarkan dan kurban pujian dipersembahkan kepada Allah Bapa, misteri Kristus dihayati dan karya penyucian Roh Kudus diselenggarakan. Dengan mengambil bagian dalam Perayaan Ekaristi, setiap hari para rahib digabungkan dalam misteri Paskah Kristus dan disatukan lebih erat satu sama lain dan dengan seluruh Gereja.