Tahap-tahap Pembentukan

Selama tahun pertama yang disebut dengan masa postulat, seorang anggota baru dipersiapkan untuk berangsur-angsur beralih dari cara hidup lamanya ke dalam cara hidup di pertapaan. Dalam tahap ini, komunitas semakin mengenal dia, begitupun sebaliknya. Sesudah menjalani masa postulat, ia diterima menjadi novis. Mulailah tahap resmi dalam hidup membiara. Dalam masa novisiat, ini ia mendapat pembentukan dasar hidup kerahiban. Tahap novisiat dilangsungkan selama dua tahun.

Pada akhir masa novisiat, ia diperbolehkan mengikat diri pada komunitas dalam ikatan yang disebut “kaul sementara”. Masa pembentukan dalam tahap ini, yang disebut juga masa monastikat, dimaksudkan untuk memperdalam dan mengembangkan permbentukan dasar yang telah diperoleh di novisiat. Pada masa ini diberikan pelajaran-pelajaran yang berguna untuk memperdalam baik iman kristiani maupun spiritualitas ordo dan kerahiban pada umumnya.

Sesudah menjalani masa kaul sementara sekurang-kurangnya selama tiga tahun, ia diperkenankan mengikrarkan kaul agung. Dalam tahap ini ia mengikat diri pada komunitas secara definitif untuk seumur hidup. Dengan kaul agung, pembentukan belum selesai, melainkan harus dilanjutkan sampai mati. Inilah yang disebut on going formation (pembentukan terus-menerus). Seorang rahib perlu dibentuk dan membentuk diri terus-menerus, terlebih untuk zaman sekarang, yang ditandai oleh situasi yang selalu berubah dengan cepat dan mendalam.

Setiap kali rahib harus mawas diri untuk mengolah perubahan-perubahan itu dan menentukan sikap yang tepat terhadapnya. Dari satu pihak rahib diminta untuk bersikap terbuka dan fleksibel, dari lain pihak ia harus kritis dan tetap berpedoman pada tradisi kerahiban pada umumnya dan tradisi Cisterciensis pada khususnya.