Awal Mulanya

Gagasan mendirikan pertapaan Trappist di keuskupan Larantuka bermula dari keinginan bapak uskup Larantuka Alm. Mgr. Darius Nggawa, SVD. Pada tahun 1983 beliau secara tertulis mengundang Abas Pertapaan Rawaseneng, Alm. Rm. Frans Harjawiyata, untuk membuka fundasi Pertapaan Rawaseneng di dusun kecil Lamanabi. Lamanabi dalam bahasa Lamaholot secara harafiah berarti “kelompok suku” (lama) yang bermukim di “bukit” (nabi/nubi). Bukit bagi warga asli, merupakan tempat ritual kurban untuk berbakti kepada Wujud Tertinggi (Allah), maka Lamanabi mendapatkan arti simbolik sebagai “Bukit Kurban”. Berhubung Rawaseneng sedang sibuk menyiapkan berdirinya biara suster Trappist di Gedono, Salatiga, Jawa Tengah, maka Rawaseneng baru dapat menanggapi secara aktif permintaan Bapak Uskup Larantuka lewat tujuh kunjungan survei Rm. Abas Frans dan beberapa anggota pertapaan Rawaseneng lainnya ke Lamanabi. Kunjungan-kunjungan itu berlangsung antara tahun 1988 hingga 1995.

Karena dirasa belum siap mendirikan fundasi langsung di Lamanabi, Rm. Abas Frans memutuskan untuk memulai dengan membuka Biara Aneks (semacam tempat tinggal sementara) lebih dahulu, dengan mengutus empat rahib ke Larantuka. Pada tanggal 12 Desember 1995 mereka berangkat dan menempati sebuah rumah kontrakan di kelurahan Sarotari, Larantuka. Keempat saudara tersebut ialah: Fr. David Bue, Fr. Dominikus Dadu Hayong, Rm. Mikael Santana dan Fr. Petrus Migu Hayong. Pada 15 Oktober 1996 Kapitel Umum OCSO (Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae) meresmikan Lamanabi sebagai fundasi Rawaseneng.

Upacara Peletakan Batu Pertama pembangunan pertapaan tahap pertama di Lamanabi yang dipimpin oleh Mgr. Darius Nggawa, SVD dilangsungkan pada 9 Juni 1997. Baru pada 14 September 1998 keempat rahib biara Aneks tersebut dapat pindah dari Sarotari ke Lamanabi. Dan pada 29 September 1998 mereka sudah dapat mulai menjalankan hidup regular secara resmi. Oleh karena itu 29 September dianggap sebagai hari jadi Fundasi Lamanabi.

Dalam Kapitel Umum November 1999 yang dilangsungkan di Lourdes - Perancis, Lamanabi diizinkan untuk mulai membuka novisiat. Dan dalam Kapitel Umum Oktober 2005 yang dilangsungkan di Assisi - Italia, status Pertapaan Lamanabi ditingkatkan dari fundasi menjadi keprioran sederhana. Upacara pengangkatan keprioran sederhana dijatuhkan pada tanggal 8 Desember 2005. Rm. Mikael Santana, OCSO yang sedari awal memimpin kelompok kecil para rahib tersebut terpilih menjadi Prior Pertapaan Lamanabi yang pertama.