Bertapa dalam Tradisi Kristen

Di dalam tradisi Kristen hidup bertapa biasa disebut dengan istilah hidup “monastik” atau “monakisme”, yang berasal dari akar kata Yunani monos artinya: “tunggal”, “sendirian”. Gagasan dasar hidup monastik adalah pengasingan atau menarik diri dari dunia atau masyarakat (fuga mundi) sehingga jalan hidup tersebut juga mencakup pemisahan tempat secara fisik. Dengan demikian kehidupan eremit, anakoret dan senobit dapat digolongkan dalam kehidupan monastik.

Menurut tulisan para pujangga monastik dalam buku Philokalia (abad IV-XV), hidup monastik memiliki cita-cita untuk mewujudkan sabda Yesus, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat 5:48). Upaya kesempurnaan hidup tersebut digarisbawahi Gereja dalam dokumen Konsili Vatikan II, Perfectae Caritatis art. 7 dan 9:

“Sebab mereka mempersembahkan korban pujian yang istimewa kepada Allah, menerangi Umat Allah dengan buah-buah kesucian yang melimpah serta menggerakkannya dengan teladan mereka, lagi pula mengembangkannya dengan kesuburan kerasulan yang rahasia. …

Tugas utama para rahib adalah dalam kerendahan hati mengamalkan bakti yang mulia kepada Allah yang Maha Agung dalam lingkungan biara, entah mereka membaktikan diri sepenuhnya dalam ibadat kepada Allah dalam suasana hidup menyendiri yang teduh, entah mereka dengan sah menerima beberapa karya kerasulan atau cinta kasih kristiani. Biara-biara merupakan bagaikan tempat persemaian bagi kemajuan rohani umat kristiani.”

Sejak abad II, gerakan monastik Kristen mulai bermunculan. Pada mulanya dikenal adanya komunitas-komunitas para perawan yang terpanggil untuk menguduskan diri sebagai mempelai Kristus. Bahkan sejak jaman Paulus masih hidup, ada beberapa perempuan yang tidak menikah untuk mempersembahkan hidup hanya bagi Kristus (1Kor 7:34).

Dari literatur-literatur Kristen awal kita mengenal nama-nama seperti: Margareta dari Antiokia, Agnes dari Roma, Eufemia dari Chalcedon dan Lusia dari Syracuse, Marcellina adik Santo Ambrosius, dan Genevieve. Komunitas rubiah tercatat mulai didirikan oleh Pakomius dan dirintis oleh adiknya yang bernama Maria di Thebaid, Mesir antara tahun 318-332.

Ada juga pertapa atau rahib individual, yang dikenal sebagai devotus (orang yang berkaul) dan kemudian disebut eremit, yang pada mulanya tinggal di pinggiran hutan atau gurun dan kemudian di tempat-tempat terpencil seperti padang gurun. Para pertapa ini menjalani hidup menyendiri dengan banyak berpuasa, tidak makan daging dan minum anggur dan menghidupi diri dengan beberapa kerajinan tangan kecil. Hasilnya hanya diambil sedikit untuk mencukupi diri seadanya dan sisanya diberikan kepada orang miskin.

Tokoh terkenal eremit pertama adalah Paulus Pertapa (230-341) dari Mesir. Ia merasa terpanggil untuk hidup hanya bersama Allah dan mengkontemplasikan-Nya sepanjang waktu. Tokoh kedua adalah Antonius Agung dari Mesir (251-356) dan dikenal sebagai Bapa Monastik karena merintis pendirian biara-biara. Antonius terpanggil menjadi rahib melalui Firman dalam Mat 19:21, yang berbunyi: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”