Ordo Trappist

Selama 500 tahun, biara-biara Benediktin berkembang pesat di Eropa Barat. Biara-biara kemudian menjadi pusat-pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan di daratan Eropa. Situasi seperti itu menuntut banyak penyesuaian dalam tata hidup kerahiban yang semakin lama semakin berbeda dari semangat asli Santo Benediktus, misalnya dalam hal penghayatan semangat kemiskinan, kesunyian dan pemisahan dari dunia. Tentu saja penyesuaian semacam itu tidak dapat sepenuhnya disalahkan, sebab sebagai bagian dari Gereja para rahib juga dipanggil untuk menjawab kebutuhan Gereja dan dunia. Namun tidak salah pula bahwa sebagian dari mereka menghendaki untuk tetap menjalankan hidup kerahiban sesuai dengan semangat asli Santo Benediktus dengan tetap menjunjung tinggi semangat kemiskinan, kesunyian dan pemisahan dari dunia.

Dalam konteks inilah Ordo Cisterciensis dilahirkan. Cisterciensis berasal dari kata Citeaux, sebuah nama untuk hutan rimba, yang terletak di sebelah selatan Dijon, Perancis. Di hutan Citeaux itulah sekelompok rahib dari biara Benediktin Molesme pada tahun 1098 mendirikan sebuah biara baru dengan cita-cita untuk menghayati semangat Peraturan Santo Benediktus seasli mungkin. Biara baru itu kemudian disebut sebagai “biara Citeaux”. Sekelompok rahib tersebut dipimpin tiga tokoh yang di kemudian hari berturut-turut menjadi abas. Mereka adalah Robertus, Alberikus dan Stefanus. Setelah mengalami masa-masa sulit pada tahun-tahun awal berdirinya, komuitas Citeaux akhirnya mampu menjalankan hidup kerahiban secara normal, bahkan berkembang dengan melahirkan biara-biara anak di tempat lain. Citeaux bersama anak-anaknya membentuk sebuah Ordo baru yang bernama Ordo Cisterciensis.

Pesatnya perkembangan tersebut tak dapat dilepaskan dari pribadi pemuda Bernardus yang bergabung ke Citeaux bersama 30 orang kerabatnya. Pribadinya yang menarik dan kemampuannya berkhotbah dan menulis menarik minat banyak pemuda untuk bergabung dengan Ordo baru tersebut. Hanya dalam hitungan beberapa dekade saja, Ordo Cisterciensis telah berkembang di segenap penjuru Eropa dengan ratusan biara-biara baru yang didirikan. Ordo baru yang tergolong memiliki tata hidup yang keras ini justru menarik banyak panggilan baru. Perkembangan

Ordo Cisterciensis yang melesat tersebut bukannya tanpa membawa tantangan. Besarnya Ordo membuat pengorganisasian dan pengawasan menjadi sulit. Ketenaran biara-biara Ordo mengundang kaum bangsawan yang bermurah hati untuk membanjiri mereka dengan derma-derma, seka-ligus dengan tuntutan keterlibatan dengan dunia yang lebih banyak. Cita-cita untuk menghayati semangat asli Santo Benediktus dipertaruhkan.

Sejak abad XIV kemerosotan mulai menggerogoti Ordo. Kecemerlangan Cisterciensis mulai memudar. Kemerosotan ini antara lain juga disebabkan oleh wabah penyakit pes, peperangan-peperangan, skisma dan timbulnya Reformasi Protestan. Meskipun demikian, selalu ada biara yang ingin membaharui diri. Dalam abad XVII ada biara-biara yang ingin kembali ke semangat asli dan menamakan diri biara-biara “Observansi Ketat”. Salah satu di antaranya adalah biara La Trappe yang dari tahun 1664-1700 dipimpin oleh Abas de Rancé. Semangat pembaharuan biara La Trappe mempunyai pengaruh besar terhadap biara-biara lainnya di Perancis.

Revolusi Perancis pada akhir abad XVIII mengakibatkan hampir semua biara di Perancis dan di negara lain di Eropa disapu bersih oleh Napoleon. Sesudah jatuhnya Napoleon, para rahib yang masih bertahan mendirikan biara-biara lagi. Kemudian para rahib yang melanjutkan pembaharuan La Trappe lebih dikenal sebagai “rahib Trappist”. Sebagian lagi yang tidak mengikuti pembaharuan La Trappe juga hidup kembali. Dengan demikian dewasa ini ada dua Ordo Cisterciensis, yaitu:

S.O.Cist : Sacer Ordo Cisterciensis yang juga disebut sebagai “Ordo Cisterciensis Observansi Umum”, dan

OCSO : Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae atau “Ordo Cisterciensis Observansi Ketat”, yang juga dikenal sebagai “Ordo Trappist” Kedua Ordo tersebut terdiri dari biara-biara rahib dan biara-biara rubiah.

Dengan kata lain, kedua Ordo terdiri dari dua cabang, cabang pria dan cabang wanita.