Santo Pakomius Agung
St. Pakomius Agung adalah seorang rahib suci Mesir abad ke-4 yang dihormati sebagai Bapa Pendiri kerahiban senobit atau kehidupan monastik komunal. St. Pakomius mengajarkan bahwa hidup kerahiban bukanlah pelarian dari dunia, melainkan pelatihan jiwa untuk mengasihi Allah dan sesama dalam komunitas yang teratur. Warisannya tetap hidup sebagai fondasi kehidupan membiara Kristen hingga hari ini.
MONASTIK
5/16/20263 min baca


St. Pakomius Agung adalah seorang rahib suci Mesir abad ke-4 yang dihormati sebagai Bapa Pendiri kerahiban senobit atau kehidupan monastik komunal. Ia lahir sekitar tahun 292 M di Thebaid (Mesir Atas, dekat Luxor) dari orang tua kafir. Pada usia sekitar 20-21 tahun, ia dipaksa masuk tentara Romawi. Di barak Thebes, ia menyaksikan kebaikan umat Kristen yang memberi makan dan menghibur para tawanan, sehingga ia berjanji akan melayani Tuhan jika dibebaskan. Setelah keluar dari tentara (sekitar 314 M), ia dibaptis, meninggalkan dunia militer, dan mulai menjalani kehidupan asketis.
Ia bergabung dengan pertapa Palamon di Tabennisi di tepi Sungai Nil, belajar selama tujuh tahun dengan doa, puasa, dan kerja tangan. Kemudian, ia mendengar suara ilahi yang memerintahkannya: “Pakomius, berjuanglah, tinggallah di tempat ini dan bangunlah sebuah biara, karena banyak orang akan datang kepadamu untuk menjadi rahib bersamamu, dan mereka akan memperoleh manfaat bagi jiwa mereka.” Dengan bantuan saudaranya Yohanes dan berkat bantuan Roh Kudus yang memberinya inspirasi untuk menulis peraturan hidup monasatik, ia mendirikan biara pertama di Tabennisi pada sekitar tahun 318–323 M. Ia meninggal dunia pada 9 Mei 348 M. Hari peringatannya dirayakan pada setiap tanggal 9 Mei atau 15 Mei.
Sumbangan Utama dalam Hidup Monastik Senobit
Sebelum St. Pakomius, kerahiban Kristen sebagian besar bersifat eremitik (soliter), seperti yang dipraktikkan St. Antonius Agung — rahib yang hidup sendiri di gua atau pondok terpencil dan hanya bertemu sesekali untuk merayakan liturgi. St. Pakomius merevolusi hal ini dengan menciptakan bentuk senobit.
- Ia mendirikan biara komunal pertama di Tabennisi dan kemudian mengembangkan federasi komunitas senobit yang terdiri dari 9–11 biara di sepanjang Lembah Nil, dihuni lebih dari 7.000 rahib maupun rubiah.
- Ia menulis peraturan monastik pertama. Peraturan ini menjadi dasar bagi peraturan St. Basil Agung di Timur dan St. Benediktus di Barat.
- Ia mengorganisir kehidupan membiara secara sistematis: para rahib tinggal dalam pondok-pondok kecil, memiliki properti bersama, makan bersama, bekerja bersama, dan tunduk di bawah satu abas (pemimpin) yang diimani sebagai wakil Tuhan sendiri.
- Ia menyeimbangkan kehidupan asketis dengan pelayanan komunal: kerja tangan (berkebun, menenun, menyalin kitab), perawatan orang sakit, dan penerimaan tamu. Hal ini membuat hidup kerahiban menjadi lebih terbuka bagi mereka yang tidak sanggup menjalani kesendirian ekstrem.
- Warisannya menyebar ke Palestina, Siria, Afrika Utara, dan Eropa, menjadi model kerahiban komunal yang masih hidup hingga kini dalam tradisi Gereja di Timur maupun di Barat.
Ajaran Rohaninya
Ajaran rohani St. Pakomius tercermin dalam “Peraturan St. Pakomius” dan kehidupan pribadinya yang penuh kerendahan hati. Beberapa poin utama:
1. Ketaatan sebagai inti kehidupan rohani
Ketaatan kepada abas dan peraturan biara adalah bentuk ketaatan kepada Allah sendiri. Ia menganggap ketaatan yang penuh semangat lebih utama daripada puasa atau doa pribadi yang berlebihan. Pembesar adalah “gambar Allah” yang membantu mengalahkan egoisme melalui penyangkalan diri dan kasih.
2. Hidup komunal sebagai jalan kesempurnaan
Kehidupan bersama mengembangkan kasih kepada sesama, kerendahan hati, dan saling mendukung. Ia mengajarkan bahwa kerahiban senobit lebih efektif membentuk jiwa daripada kesendirian, karena memaksa seseorang keluar dari ego dan melayani saudara-saudara.
3. Keseimbangan doa dan kerja
Hari-hari para rahib senobit diisi dengan doa bersama pada waktu-waktu tetap (dengan mendaraskan mazmur dan doa-doa lainnya, dan dengan membaca Kitab Suci), ditambah kerja tangan yang disesuaikan dengan kekuatan masing-masing. Kerja bukan sekadar penghidupan, melainkan sarana latihan rohani dan pencegah kemalasan.
4. Kesederhanaan, kemiskinan, dan kesatuan
Semua rahib menerima makanan dan pakaian yang sama; tidak ada harta pribadi; tidak ada pembicaraan sia-sia saat makan atau doa. Puasa dan makan disesuaikan dengan kemampuan agar tidak membebani yang lemah.
5. Kasih, pengampunan, dan perawatan sesama
Ia sangat menekankan kasih kepada yang sakit, lemah, dan para pemula. Ia melarang penghakiman (bahkan dalam pikiran), memaafkan dosa karena ketidaktahuan atau kelemahan, dan menuntut pertobatan yang tulus. Ia sendiri merawat orang sakit dan mendorong syukur kepada Allah di tengah penderitaan.
6. Doa harian yang teratur dan sederhana
Ia juga menganjurkan doa-doa pribadi sederhana kepada para rahib untuk menjagai kesadaran akan Allah di tengah-tengah kesibukan pelayanan sehari-hari.
St. Pakomius mengajarkan bahwa hidup kerahiban bukanlah pelarian dari dunia, melainkan pelatihan jiwa untuk mengasihi Allah dan sesama dalam komunitas yang teratur. Warisannya tetap hidup sebagai fondasi kehidupan membiara Kristen hingga hari ini. Semoga teladannya menginspirasi kita untuk hidup dalam ketaatan, kasih, dan keseimbangan rohani.
Pertapaan Trappist Lamanabi
Desa Lamanabi RT004/RW002, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur 86251, Nusa Tenggara Timur
© 2024. All rights reserved.
Bandara terdekat:
GEWAYANTANA (LKA) - Larantuka
